Beranda Sejarah Contact
Follow us

Bagaimana asal-usul

Perang

Obor?

Sejarah

Perang Obor

Konon dahulu di desa Tegal Sambi, tinggal seorang pria kaya raya bernama Mbah babadan yang memiliki hewan ternak berupa Kerbau dan sapi. Seiring berjalannya waktu, ternak milik Mbah Babadan berkembang biak hingga Mbah Babadan tidak sanggup mengurus semua hewan ternaknya sendirian.

Setelah itu, muncul Ki Gemblong yang mampu menggembala semua hewan ternak milik Mbah Babadan. Ki Gemblong di kenal sebagai seseorang yang rajin dan tekun dalam merawat hewan ternak. Karena Mbah babadan merasa cocok dengan kepribadiannya,

Setelah keduanya bertemu, Kyai Babadan menaruh kepercayaannya kepada Ki gemblong dan menawarkan kerjasama antar keduanya.

Meski berat, Ki Gemblong menyanggupinya

Setiap pagi dan sore Ki Gemblong selalu memandikan hewan-hewan gembalaannya di sungai, sehingga binatang-binatang ternak peliharaan tersebut tampak gemuk - gemuk dan sehat. Tentu saja Kyai Babadan merasa senang dan memuji Ki Gemblong, atas ketekunan dan kepatuhannya dalam memelihara binatang binatang tersebut

Suatu ketika, Ki Gemblong menggembala di tepi sungai Kembangan sambil asyik menyaksikan banyaknya ikan dan udang yang hidup di sungai tersebut, dan tanpa menyia-nyiakan waktu ia langsung menangkap ikan dan udang tersebut yang hasil tangkapannya lalu dibakar dan dimakan di kandang.

Setelah kejadian ini hampir setiap hari Ki Gemblong selalu menangkap ikan dan udang, sehingga ia lupa akan tugasnya sebagai penggembala

Dan akhirnya kerbau dan sapinya menjadi kurus-kurus dan akhirnya jatuh sakit, bahkan mulai ada yang mati.

Keadaan ini menyebabkan Kyai Babadan menjadi bingung, tidak kurang-kurangnya dicarikan jampi-jampi (jamu) demi kesembuhan binatang-binatang piaraannya itu, tetapi hewan-hewan itu tetap tidak sembuh.


Akhirnya Kyai Babadan mengetahui penyebab binatang piaraannya menjadi kurus-kurus dan akhirnya jatuh sakit, tidak lain dikarenakan Ki Gemblong tidak lagi mau mengurus binatang–binatang tersebut namun lebih asyik menangkap ikan dan udang untuk dibakar dan dimakannya.

Melihat hal semacam itu Kyai Babadan marah besar, apalagi saat ditemui Ki Gemblong sedang asyik membakar ikan dan udang hasil tangkapannya. Kyai Babadan langsung menghajar Ki Gemblong dengan menggunakan obor dari pelepah kelapa.

Melihat gelagat yang tidakmenguntungkan Ki Gemblong tidak tinggal diam, dengan mengambil sebuah obor yang sama untuk menghadapi Kyai Babadan sehingga terjadilah Perang Oboryang apinya berserakan ke sana ke mari dan sempat membakar tumpukan jerami yang terdapat di sebelah kandang.

Kobaran api tersebut mengakibatkan sapi dan kerbau yang berada di kandang lari tunggang-langgang dan tanpa diduga binatang yang tadinya sakit akhirnya menjadi sembuh bahkan binatang tersebut mampu berdiri dengan tegak sambil memakan rumput di ladang.

Kejadian yang tidak diduga dan sangat dramatis tersebut akhirnya diterima oleh masyarakat Desa Tegal Sambi sebagai suatu hal yang penuh mukjizat, bahwa dengan adanya Perang Obor segala jenis penyakit menjadi sembuh. Pada saat sekarang upacara tradisional Perang Obor dipergunakan untuk sarana sedekah bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa

Tradisi

Perang Obor

Perayaan perang obor dimulai dengan pertemuan yang dipimpin oleh Kepala Desa Tegal sambi, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan perlengkapan perang obor, lalu pada petang dilakukan penggantian sarung pusaka, sebelum itu sebulan sebelumnya telah dilakukan ziarah makam leluhur. Adapula pemotongan kepala kerbau sebagai sesaji dan persiapan sesajian lain. Setelah semua sesaji lengkap, Setelah menggelar kenduri, ada pula tradisi pagelaran wayang yang digelar semalam suntuk. Kemudian pada malam hari dilaksanakanperang obor yang melibatkan warga setempat.

Pembukaan

Pada prosesi Perang Obor, acara dimulai dengan disulutnya pelepah kelapa dan daun pisang kering oleh tokoh adat atau tamu undangan.

Peserta

Peserta perang obor ini adalah laki-laki penduduk Tegalsambi, berusia minimal 17 tahun sehat jasmani, rohani, dan tidak gampang emosi. Obor hanya boleh dipukulkan ke obor lawan bukan tubuh dan harus dari arah depan.

Menyita Perhatian Turis

Meski cukup berbahaya, tradisi ini sangat menarik bagi warga. Kali ini Perang Obor yang digelar secara terbuka, disaksikan langsung para warga dan wisatawan.

Tanggal Kegiatan

Tradisi Perang Obor dilakukan setiap setahun sekali yaitu setiap hari Senin Pahing malam Selasa Pon setelah panen raya.

Kekebalan

Dalam peristiwa ini bunga api pasti memercik ke mana-mana, mengenai pemain atau penonton. Luka tersebut diobati dengan minyak khusus. Minyak untuk mengobati luka tersebut adalah minyak yang dibuat dari kelapa dicampur bunga telon

Galeri

Perang Obor